Wednesday, 30 October 2013

Individu dan Faktor Pertumbuhan



 INDIVIDU
            Individu berasal dari kata latin individuum yang artinya tidak terbagi. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan seberapa mempengaruhi kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
            Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya,melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial yang bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat pada aspek yang lainnya. Individu dalam tingkah laku menurut pola pribadinya ada 3 kemungkinan: pertama menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitasnya, kedua takluk terhadap kolektif, dan ketiga memengaruhi masyarakat (Hartomo, 2004: 64).
            Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu masyrakat yang menjadi latar belakang keberadaanya. Individu berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai dengan perilaku yang telah ada pada dirinya.
            Manusia sebagai individu salalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi yang prosesnya memerlukan lingkungan yang dapat membentuknya pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor pendukung pembentukan pribadi tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses pembentukan pribadi.
            Pengaruh lingkungan masyarakat terhadap individu dan khususnya terhadap pembentukan individualitasnya adalah besar, namun sebaliknya individu pun berkemampuan untuk mempengaruhi masyarakat. Kemampuan individu merupakan hal yang utama dalam hubungannya dengan manusia.

FAKTOR PERTUMBUHAN.
Pertumbuhan penduduk di dunia ini makin cepat, mendorong pertumbuhan aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, dan sebagainya. Dengan begitu, maka bertambahlah sistem matapencaharian hidup menjadi lebih kompleks.

Secara umum ada tiga faktor utama demografi yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, di antaranya sebagai berikut:

1.      Kelahiran (Fertilitas)
Kelahiran adalah istilah dalam demografi yang mengindikasikan jumlah anak yang dilahirkan hidup, atau dalam pengertian lain fasilitas adalah hasil produksi yang nyata dari fekunditas seorang wanita. Berikun ini penjelasan mengenai pengukuran fertilitas:

a.        Pengukuran fasilitas tahunan adalah pengukuran kelahiran bayi pada tahun tertentu dihubungkan dengan jumlah penduduk pada tahun tersebut. Adapun ukuran-ukuran fertilitas tahunan adalah:
-          Tingkat fertilitas kasar (crude birth rate) adalah banyaknya kelahiran hidup pada satu tahun tertentu tiap 1000 penduduk.
-          Tingkat fertilitas umum (general fertility rate) adalah jumlah kelahiran hidup per-1000 wanita usia reproduksi (usia 14-49 atau 14-44 tahun) pada tahun tertentu.
-          Tingkat fertilitas menurut umur (age specific fertility rate) adalah perhitungan tingkat fertilitas perempuan pada tiap kelompok umur dan tahun tertentu.
-          Tingkat ferlititas menurut ukuran urutan penduduk (birth order specific fertility rates) adalah perhitungan fertilitas menurut urutan kelahiran bayi oleh wanita pada umur dan tahun tertentu.

b.      Pengukuran fertilitas komulatif adalah pengukuran jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan hingga mengakhiri batas usia suburnya. Adapun ukurannya adalah:
-          Tingkat fertilitas total adalah jumlah kelahiran hidup laki-laki dan perempuan jumlah tiap 1000 penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya dan tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada priode waktu tertentu.
-          Gross reproduction rates adalah jumlah kelahiran bayi perempuan oleh 1000 perempuan sepanjang masa reproduksinya dengan catatan tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa produksinya.

2.      Kematian (mortalitas)
Kematian adalah ukuran jumlah kematian umumnya karena akibat yang spesifik pada suatu populasi. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per- 1000 individu per-tahun, hingga rata-rata mortalitas sebesar 9,5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per-tahun.


3.      Perpindahan (migrasi)
Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dalam banyak kasus organisme bermigrasi untuk mencari sumber cadangan makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan yang mungkin terjadi karena datangnya musim dingin atau kerana over populasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertalitas penduduk:

1.            Faktor demografi, antara lain adalah:
a.       Struktur umur
b.      Struktur perkawinan
c.       Umur kawin pertama
d.      Paritas
e.       Disrupsi perkawinan
f.       Proporsi yang kawin




2.      Faktor non demografi, antara lain adalah:
a.       Keadaan ekonomi penduduk
b.      Perbaikan status perempuan
c.       Tingkat pendidikan
d.      Urbanisasi dan industrialisasi.

Sumber : google.com


Kasus 1
Penduduk Dunia Mencapai Tujuh Miliar
            TEMPO.CO, Boston - Populasi dunia tampaknya akan melewati tujuh miliar tahun ini. Angka itu meningkat satu miliar hanya dalam satu dekade.

            Temuan ini juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2050 populasi dunia akan membengkak menjadi lebih dari sembilan miliar. Angka 10 miliar diperkirakan akan terjadi pada 2100 dan diperkirakan bisa setinggi 15,8 miliar pada awal abad ke-22, tergantung tingkat kelahiran penduduk.

            Peneliti dari Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat, dalam hubungannya dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan pembengkakan populasi itu akan menyebabkan pergolakan demografi ekonomi global.

            Mereka juga mengklaim bahwa hampir semua (97 persen) dari proyeksi peningkatan 2,3 miliar populasi akan terjadi di daerah yang kurang berkembang dengan hampir setengahnya (49 persen) di Afrika.

            Sebaliknya, populasi negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat akan tetap datar, tetapi berusia lebih tua, dengan lebih sedikit orang dewasa usia kerja mendukung mereka yang telah pensiun dan hidup di masa pensiun.

            Populasi dunia mencapai satu miliar pada 1800. Populasi dunia pun telah tumbuh pesat dalam dua abad terakhir dan membengkak dari 3 hingga 7 miliar dalam setengah abad terakhir.

            Pada 2011, 135 juta orang diperkirakan akan lahir, sementara 57 juta akan mati sehingga kenaikan bersih mencapai 78 juta orang.

Kasus 2

1,2 Miliar Penduduk Dunia Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

http://assets.kompas.com/data/photo/2008/06/21/191655p.JPG

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 1,2 miliar penduduk dunia saat ini masih tinggal di rumah tidak layak huni. Sementara itu, kebutuhan rumah baru penduduk dunia saat ini mencapai angka 200 juta unit dengan angka prtambahan rumah sekitar 3 juta per tahun. 
Untuk mengatasi hal itu, para pemimpin dunia diharapkan dapat memberikan perhatian pada sektor perumahan serta produksi pembangunan rumah dengan biaya rendah (low cost housing) dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi ktif dalam mengatasi masalah perumahan dan permukiman.
Sedangkan saat ini kebutuhan rumah bagi masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan menengah bawah diperkirakan sekitar 8 juta unit. Adapun kebutuhan rumah baru masyarakat setiap tahunnya berkisar 800.000 unit rumah. Kebutuhan rumah masyarakat Indonesia pun diperkirakan sekitar 4 persen dari total kebutuhan rumah penduduk dunia.
“Sekitar 1,2 miliar penduduk dunia saat ini masih tinggal di rumah tidak layak huni. Sedangkan kebutuhan rumah baru penduduk dunia saat ini mencapai angka 200 juta unit,” ujar Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa didampingi Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat (Sesmenpera)  Iskandar Saleh dan Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Budi Yuwono kepada wartawan saat Konferensi Pers Peringatan Hari Habitat Dunia Tahun 2010 di Ruang Prambanan, Kantor Kemenpera, Jakarta, Senin (4/10). Peringatan Hari Habitat Dunia Tahun 2010 ini mengangkat tema “Better City, Better Life” atau “Kota yang Lebih Baik untuk Kehidupan yang Lebih Baik”.
Menpera Suharso Monoarfa mengungkapkan, penyelenggaraan peringatan HHD 2010 yang ditetapkan oleh Majelis PBB jatuh setiap Senin pertama bulan Oktober ini diharapkan dapat mengingatkan dunia akan tanggung jawab bersama untuk masa depan permukiman yang lebih baik. Dalam hal  ini masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi obyek dalam pembangunan perumahan, tapi harus menjadi subyek yang mampu berpartisipasi aktif dalam program perumahan.
Lebih lanjut, Menpera juga mengingatkan bahwa rumah layak huni adalah  sebuah isu Hak Asasi Manusia (HAM) yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Selain itu, persoalan dasar mengenai kemiskinan kota  serta penanganan kawasan kumuh di Indonesia juga harus diselesaikan dan dipecahkan oleh seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan dan permukiman.
“Luas lahan permukiman kumuh berdasarkan hasil pendataan pemerintah terus bertambah setiap tahunnya. Saat ini luasnya bahkan telah mencapai angka 57.000 ha. Luas lahan permukiman kumuh itu bertambah 3.000 ha dari angka 54.000 ha sekitar lima tahun lalu,” terangnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Menpera pada kesempatan itu juga mengajak pemerintah daerah untuk disiplin dalam melaksanakan peraturan yang mengatur tentang tata ruang serta tata kota, khususnya dalam program pembangunan perumahan di daerah. Menpera menerangkan, kota yang telah berhasil melaksanakan perencanaan pembangunan perumahan yang baik berdasarkan peraturan daerah tata ruang antara lain Kota Palembang, Pekalongan dan Solo. Untuk itu, pihaknya berharap pemerintah daerah lain dapat mencontoh ke tiga kota tersebut dalam program perencanaan perumahan dan permukiman.
Selain itu, Menpera juga meminta pemerintah daerah untuk melakukan fungsi dan pengawasan atau kontrol dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan perumahan bagi masyarakat. Dengan demikian diharapkan pembangunan rumah susun yang sedang dilaksanakan pemerintah dapat bermanfaat dan efektif bagi masyarakat. Forum dialog antara pemerintah dan masyarakat terkait masalah perumahan juga harus terus dilakukan untuk mengurangi timbulnya konflik.
“Kita harus keroyok secara bersama-sama persoalan perumahan, khususnya penanganan perumahan dan permukiman kumuh yang ada. Jangan sampai kita menimbulkan masalah kekumuhan baru ketika kita berusaha menyelesaikan masalah itu,” tandasnya.
Setelah konferensi pers terkait peringatan Hari habitat Dunia 2010, Menpera juga melakukan pembukaan pameran foto Habitat serta lukisan anak di lobi Kemenpera. Direncanakan pameran tersebut akan dilaksanakan selama satu pekan mendatang.

TANGGAPAN/KRITIK
            Dari kasus diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan penduduk sangat mempengaruhi lingkungan. Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk otomatis meningkat pula taraf kesejahteraan dan meningkat pula pemanfaatan lingkungan yang dapat kita lihat bahwa adanya ketidakseimbangan lingkungan dengan tingkat penduduk saat ini. Banyak skelai penyelewengan lingkungan hanya untuk peningkatan kesejahteraan yang dimana sebenarnya kesejahteraan yang didapat pun tidak sesuai contoh lingkungan rumah yang kumuh dan kurang memadai, sandang pangan papan pun terlihat kurang memadai, dan terlihat pengerusakan lingkungan yg dilakukan oleh manusia. Oleh karna itu saran saya pemerintah harus se-segera mungkin menanggulangi dampak negative dari pertumbuhan penduduk dengan rencana yang efektif seperti menjalankan program KB, membatasi migrasi, dan pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih memadai untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.

No comments:

Post a Comment