Wednesday, 30 October 2013

Pemuda dan Sosialisasi



A.         Pengertian Pemuda
      
            ialah kita ketahui bahwa pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah nilai. hal ini merupakan pengertian idiologis dan kultural daripada pengertian ini. Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karma pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan.
Ada beberapa kedudukan pemuda dalam pertanggungjawabannya atas tatanan masyarakat, antara lain:
a.  Kemurnian idealismenya
b.  Keberanian dan Keterbukaanya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang baru
c.  Semangat pengabdiannya
d.  Sepontanitas dan dinamikanya
e.  Inovasi dan kreativitasnya
f.   Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru
g.  Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan keperibadiannya yang mandiri
h.  Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelevansikan pendapat, sikap dan tindakanya dengan kenyataan yang ada.

B. Sosialisasi Pemuda
    
            Sosialisasi adalah proses yang membantu individu melalui media pembelajaran dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dalam sosialisasi, antara lain: Proses Sosialisasi, Media Sosialisasi dan Tujuan Sosialisasi.



a) Proses sosialisasi
            Istilah sosialisasi menunjuk pada semua factor dan proses yang membuat manusia menjadi selaras dalam hidup ditengah-tengah orang kain. Proses sosialisasilah yang membuat seseorang menjadi tahu bagaimana mesti ia bertingkah laku ditengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari proses tersebut, seseorang akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya.
      Semua warga negara mengalami proses sosialisasi tanpa kecuali dan kemampuan untuk hidup ditengah-tengah orang lain atau mengikuti norma yang berlaku dimasyarakat. Ini tidak datang begitu saja ketika seseorang dilahirkan, melainkan melalui proses sosialisasi. 

b) Media Sosialisasi
•   Orang tua dan keluarga
•  Sekolah
•  Masyarakat
•  Teman bermain
•  Media Massa.

c) Tujuan Pokok Sosialisasi
•   Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.
  Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengenbangkankan kemampuannya. 
•  Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
  •  Bertingkah laku secara selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok ada pada lembaga atau   kelompok khususnya dan pada masyarakat umum.
Peranan Sosial Mahasiswa bisa dikatakan pemuda yang aktif dan berintelektual yang akan berperan sebagai generasi yang diharapkan akan meneruskan generasi sebelumnya, yang akan membangun negaranya menjadi lebih baik (maju). Sedangkan Pemuda adalah sesorang Individu atau kelompok yang berperan aktif didalam masyarakat dan bisa dikatakan Mahasiswa atau tidak, karena belum semua pemuda yang berintelektual mampu secara ekonomi untuk menjenjang pendidikan yang lebih tinggi, karna biaya pendidikan yang semakin mahal.  Bisa dikatakan Pemuda memiliki Sosialisasi yang tinggi yang dapat berperan penting dilingkungan masyarakat kuhususnya bersosialisai untuk menjadi penengah didalam lingkungan sekitar maupun secara luas.

Pengertian internalisasi,pelajar dan sosialisasi
Pengertian dari internalisasi belajar dan sosialisasi pada dasarnya memiliki kesamaan.karena sama-sama berlangsung melalui interaksi sosial.Internalisasi lebih di tekan kan kepada norma-norma individu yang meng internalisasikan norma-norma tersebut,akan tetapi norma-norma tersebut mendarah daging dalam jiwa anggota masyarakat.
Belajar di tekankan kepada tingkah laku seorang individu,seperti bertambahnya pengetahuan/ilmu dalam diri seorang atau seorang individu yang tidak tahu karena dia belajar maka menjadi tahu,dan proses belajar berlangsung melalui lingkungan hidup sehari-hari ataupun lembaga pendidikan.
            Sosialisasi di tekankan kepada individu yang berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar, karena dalam kaidah kehidupan manusia itu tidak dapat hidup sendiri.
Masalah pribadi yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
Masalah khas remaja yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.
· Penyalahgunaan narkoba
· Seks bebas
· Tawuran antara pelajar
Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
- Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
- Ketidakstabilan emosi.
- Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
- Adanya sikap menentang dan menantang orang tua
- Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan pertentang dengan orang tua.
- Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
- Senang bereksperimentasi.
- Senang bereksplorasi.
- Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
- Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.



Kasus Generasi Muda 
          Sebagaimana dikemukakan di atas, generasi muda dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya menghadapi berbagai permasalahan yang perlu diupayakan penanggulangannya dengan melibatkan semua pihak. Permasalahan umum yang dihadapi oleh generasi muda di Indonesia dewasa ini antara lain sebagai berikut :
1. Terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Dengan adanya pengangguran dapat merupakan beban bagi keluarga maupun negara sehingga dapat menimbulkan permasalahan lainnya.
2. Penyalahgunaan Obat Narkotika dan Zat Adiktif lainnya yang merusak fisik dan mental bangsa.
3. Masih adanya anak-anak yang hidup menggelandang.
4. Pergaulan bebas diantara muda-mudi yang menunjukkan gejala penyimpangan perilaku (Deviant behavior).
5. Masuknya budaya barat (Westernisasi Culture) yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita yang dapat merusak mental generasi muda.
6. Pernikahan dibawah umur yang masih banyak dilakukan oleh golongan masyarakat, terutama di pedesaan.
7. Masih merajalelanya kenakalan remaja dan permasalahan lainnya. Permasalahan tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan jaman apabila tidak diupayakan pemecahannya oleh semua pihak termasuk organisasi masyarakat, diantaranya KARANG TARUNA . Salah satu kegiatan Karang Taruna Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman yang merupakan Karang Taruna berprestasi dalam bidang Perbengkelan. 

Tanggapan
            Dari kasus diatas dapat diketahui generasi muda sangat berpotensi terjerumus dalam hal-hal negative apabila salah dalam besosialisasi dalam lingkungan dan mereka dapat melakukan atau memberikan hal positif apabila masuk dalam lingkungan yang positif pula. Jadi kesimpulannya agar generasi muda tidak terjerumus dalam hal negative orangtua, sekolah dsb harus berpengaruh dalam segala perilaku para generasi muda dan memantau dan mengajarkan apa yang harus mereka lakukan terhadap lingkungan yang baik agar mereka dapat timbal-balik yang baik pula dan tidak merugikan lingkungan dan diri mereka sendiri.

Penduduk dan Migrasi



PENDUDUK DAN MIGRASI.
            Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas politik/negara (migrasi internasional). Dengan kata lain, migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara) lain.
            Jenis migrasi adalah pengelompokan migrasi berdasarkan dua dimensi penting dalam analisis migrasi, yaitu dimensi ruang/daerah (spasial) dan dimensi waktu.
            Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi internasional merupakan jenis migrasi yang memuat dimensi ruang.  Migrasi internasional dapat dibedakan atas tiga macam yaitu :
·        Imigrasi, yaitu masuknya penduduk dari suatu negara ke negara lain dengan tujuan menetap. Orang yang melakukan imigrasi disebut imigran
·         Emigrasi, yaitu keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Orang yang melakukan emigrasi disebut emigrant
·         Remigrasi atau repatriasi, yaitu kembalinya imigran ke negara asalnya

            Migrasi internal adalah perpindahan penduduk yang terjadi dalam satu negara, misalnya antarpropinsi, antarkota/kabupaten, migrasi dari wilayah perdesaan ke wilayah perkotaan atau satuan administratif lainnya yang lebih rendah daripada tingkat kabupaten/kota, seperti kecamatan dan kelurahan/desa. Migrasi internal merupakan jenis migrasi yang memuat dimensi ruang. Migrasi nasional /internal terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut :


  •   Urbanisasi, yaitu perpindahan dari desa ke kota dengan tujuan menetap. Terjadinya urbanisasi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut :

(a) Lahan pertanian semakin sempit.
(b) Sulitnya pekerjaan di luar sektor pertanian.
(c) Banyaknya pengangguran di pedesaan.
(d) Fasilitas kehidupan sulit didapat.
(e) Kurangnya fasilitas hiburan.



(2) Faktor penarik di kota, sebagai berikut.
(a) Lapangan pekerjaan lebih banyak.
(b)
Banyak menyerap tenaga kerja.
(c) Banyak hiburan.
(d) Banyak fasilitas kehidupan.


  •   Transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari pulau yang padat penduduk ke pulau yang jarang penduduknya di dalam wilayah republik Indonesia. Transmigrasi pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun 1905 oleh pemerintah Belanda yang dikenal dengan nama kolonisasi. Berdasarkan pelaksanaannya, transmigrasi di Indonesia dapat dibedakan atas :

 1. Transmigrasi Umum, yaitu transmigrasi yang dilaksanakan dan dibiayai oleh pemerintah
2. Transmigrasi Khusus, yaitu transmigrasi yang dilaksanakan degan tujuan tertentu, seperti penduduk yang terkena bencana alam dan daerah yang terkena pembangunan proyek
3. Transmigrasi Spontan (swakarsa), yaitu transmigrasi yang dilakukan oleh seseorang atas kemauan dan biaya sendiri
4. Transmigrasi Lokal, yaitu transmigrasi dari suatu daerah ke daerah yang lain dalam propinsi atau pulau yang sama


  •  Ruralisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kota ke desa dengan tujuan menetap. Ruralisasi merupakan kebalikan dari urbanisasi.

            Selain jenis migrasi yang disebutkan di atas, terdapat jenis migrasi yang disebut evakuasi. Evakuasi adalah perpindahan penduduk yang yang terjadi karena adanya ancaman akibat bahaya perang, bencana alam dan sebagainya. Evakuasi dapat bersifat nasional maupun internasional.
            Migran menurut dimensi waktu adalah orang yang berpindah ke tempat lain dengan tujuan untuk menetap dalam waktu enam bulan atau lebih.
            Migran sirkuler (migrasi musiman) adalah orang yang berpindah tempat tetapi tidak bermaksud menetap di tempat tujuan. Migran sikuler biasanya adalah orang yang masih mempunyai keluarga atau ikatan dengan tempat asalnya seperti tukang becak, kuli bangunan, dan pengusaha warung tegal, yang sehari-harinya mencari nafkah di kota dan pulang ke kampungnya setiap bulan atau beberapa bulan sekali.
            Migran ulang-alik (commuter) adalah orang yang pergi meninggalkan tempat tinggalnya secara teratur, (misal setiap hari atau setiap minggu), pergi ke tempat lain untuk bekerja, berdagang, sekolah, atau untuk kegiatan-kegiatan lainnya, dan pulang ke tempat asalnya secara teratur pula (missal pada sore atau malam hari atau pada akhir minggu). Migran ulang-alik biasanya menyebabkan jumlah penduduk di tempat tujuan lebih banyak pada waktu tertentu, misalnya pada siang hari.
Konsep Dasar
Ada tiga kriteria migran: seumur hidup, risen, dan total.
            Migran seumur hidup (life time migrant) adalah orang yang tempat tinggalnya pada saat pengumpulan data berbeda dengan tempa tinggalnya pada waktu lahir.
            Migran risen (recent migrant) adalah orang tempat tinggalnya pada saat pengumpulan data  berbeda dengan tempat tinggalnya pada waktu lima tahun sebelumnya.
            Migran total (total migrant) adalah orang yang pernah bertempat tinggal di tempat yang berbeda dengan tempat tinggal pada waktu pengunpulan data.
            Kriteria migrasi yang digunakan dalam modul ini adalah migasi risen (recent migration), karena lebih mencerminkan dinamika spasial penduduk antardaerah daripada migrasi seumur hidup (life time migration) yang relatif statis. Sedangkan migrasi total tidak dibahas karena definisinya tidak memasukkan batasan waktu antara tempat tinggal sekarang (waktu pencacahan) dan tempat tinggal terakhir sebelum tempat tinggal sekarang. Akan tetapi migrasi total biasa dipakai untuk menghitung migrasi kembali (return migration).
Untuk perhitungan angka migrasi, penduduk terpapar yang dihitung adalah penduduk usia lima tahun atau lebih. Dalam perhitungan angka migrasi menurut kelompok umur, penduduk usia 0-4 tahun datanya tidak tersedia karena kelompok penduduk ini merupakan kelompok penduduk yang lahir pada periode antar dua survei/sensus.  Untuk mengatasi hal ini, khusus untuk penduduk kelompok umur 0-4 tahun, digunakan data migrasi seumur hidup untuk penduduk berusia 0-4 tahun.
Faktor Migrasi 
Pada dasarnya ada dua pengelompokan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi, yaitu faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor).
Faktor-faktor pendorong (push factor) antara lain adalah:
  • Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan seperti menurunnya daya dukung lingkungan, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian.
  • Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal (misalnya tanah untuk pertanian di wilayah perdesaan yang makin menyempit).
  • Adanya tekanan-tekanan seperti politik, agama, dan suku, sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal.
  • Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.
  • Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami, musim kemarau panjang atau adanya wabah penyakit


Faktor-faktor penarik (pull factor) antara lain adalah:
  • Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaikan taraf hidup.
  • Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik
  • Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik lainnya.
  • Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan sebagai daya tarik bagi orang-orang daerah lain untuk bermukim di kota besar.
Sementara itu Lee (1966) mengajukan empat faktor yang menyebabkan orang mengambil keputusan untuk melakukan migrasi yaitu:
            a.  Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal.
            b.  Faktor-faktor yang terdapat di daerah tujuan.
            c.  Rintangan-rintangan yang menghambat.
            d.  Faktor-faktor pribadi







Kasus Migrasi
Migrasi ke kota Amazon tidak meningkatkan penghidupan, laporan lingkungan
Melalui penelitian, Lukas Parry, seorang profesor di Universitas Lancaster Environment Centre, mampu menentukan bahwa para migran yang meninggalkan rumah mereka di pedesaan dalam mencari peluang kerja yang lebih baik, masih kekurangan akses ke pekerjaan perkotaan yang baik dan sebagian besar gagal untuk keluar dari kemiskinan. Kredit foto: CIAT/Neil Palmer
Melalui penelitian, Lukas Parry, seorang profesor di Universitas Lancaster Environment Centre, mampu menentukan bahwa para migran yang meninggalkan rumah mereka di pedesaan dalam mencari peluang kerja yang lebih baik, masih kekurangan akses ke pekerjaan perkotaan yang baik dan sebagian besar gagal untuk keluar dari kemiskinan. Kredit foto: CIAT/Neil Palmer
SAN JOSE, Kosta Rika (19 Agustus 2013) – Migrasi masyarakat desa ke kota di Amazon Brasil seringkali tidak sesuai dengan harapan pengurangan kemiskinan atau konservasi keragaman hayati, menurut seorang profesor di Universitas Lancaster Environment Centre.
Penduduk desa seringkali meninggalkan hutan dan bermigrasi ke kota berharap mengalami peningkatan pemasukan, kata Luke Parry pada pertemuan Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC) tahun ini di San José, Kosta Rika.
Eksodus penduduk desa bisa dipandang memberi keuntungan bagi keragaman hayati karena wilayah hutan yang dibersihkan untuk pertanian bisa menurun dan berkurangnya tekanan terhadap populasi alam liar; walaupun menurut Parry, hubungan positif terhadap migrasi tidak berarti langsung begitu saja, begitu pula skenario menang-menang (win-win) tidak bisa dengan mudah diraih, setidaknya di Amazon Brasil. 
“Keluarga desa yang bermigrasi ke kota tidak juga lebih baik. Sebagian besar migran tetap miskin dan tak terdidik—dan mereka tetap mengkonsumsi satwa liar, malah banyak,” kata Parry.
            Berdasarkan riset mengevaluasi dampak migrasi desa ke kota di dua kota kecil di Sungai Madeira di Amazon Brasil, Parry dapat menentukan bahwa migran yang meninggalkan rumah desa untuk mencari peluang kerja lebih baik, tetap memiliki akses rendah terhadap ketenagakerjaan kota yang baik dan sebagian besar gagal lari dari kemiskinan.
            Meningkatkan akses pendidikan diidentifikasi Parry sebagai salah satu pendorong utama migrasi ke wilayah kota.
            “Mereka pergi untuk mencari peluang pendidikan,” kata Parry. “Migran percaya bahwa pendidikan lebih baik akan membuka pintu bagi peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, bahkan ketika akses layanan pendidikan dimungkinkan, pendapatan migran desa ke kota tetap rendah.”
            Eksodus populasi desa tidak mengarah pada peningkatan keragaman hayati pula: secara virtual semua keluarga urban dalam survei Parry mengonsumsi alam liar, termasuk ikan, hewan buruan, kura-kura dan sejenis reptilia Caiman.
            Konsumsi ini mencakup spesies terancam punah. Akibatnya, pemanenan spesies liar tidak turun, seperti diharapkan. Sedikit bertentangan, migran tidak kehilangan selera terhadap hewan liar ketika mereka mulai hidup baru di wilayah kota dan tuntutan kota terhadap hewan liar meningkatkan tekanan terhadap kehidupan liar di wilayah kota.
            “Kehidupan liar menjadi terurbanisasi. Ini mengarah pada potensi terjadinya krisis hewan liar atau dapat meningkatkan konservasi serta perburuan berlanjut hewan liar di Amazonia”.
Namun, konklusi Parry belum definitif. Riset dilakukan Nathalie Van Vliet, yang juga anggota panel, menemukan hasil berlawanan di Kolumbia dan Amazon Brasil; sejalan dengan orang pindah ke kota, dengan preferensi terhadap daging hewan liar, mereka meninggalkan konsumsi daging liar dan menggantikannya dengan ayam, telur dan daging olahan lain yang murah.
            Temuan Parry menggambarkan bahwa tidak semua populasi kota Amazonia bergeser dari makanan tradisional, mereka juga mengalami transisi nutrisi yang diidentifikasi oleh Van Vliet. Protein binatang yang paling sering dikonsumsi adalah ayam dan ikan,” katanya.
            Riset Parry, yang melihat konsumsi (ya atau tidak) spesies berbeda dalam periode 12 bulan, mengidentifikasi kemiskinan sebagai penduga kuat berburu dan memancing. Bagaimanapun, sementara migran miskin mengambil primata terancam, burung dan spesies ikan tabu, migran lebih kaya membel ikan dan kura-kura yang terancam punah.
            Dampak negatif migrasi desa-kota oleh petani juga terdokumentasi dalam kasus Peru dan Meksiko.
            Sebuah kajian CIFOR mengaitkan bekas wilayah desa lebih sering terkena kebakaran besar di Amazon Peru (Uriarte et al. 2012), sementara riset yang dilakukan di Meksiko oleh James Robson dan Fikret Berkes, mengindikasikan bahwa migrasi berkontribusi terhadap hilangnya praktik tata kelola tradisional yang pada gilirannya mengarah pada penurunan keragaman hayati.
            Menurut Parry, semuanya menunjuk pada “sebuah badai sempurna: tingkat kemisikinan tinggi, bekas wilayah besar hutan yang terlantar kini terbuka bagi deforestasi lanjut, dan terdapat peningkatan kebutuhan terhadap daging hewan liar untuk mensuplai meningkatnya populasi kota”.



Tanggapan/Kritik :
            Dalam kasus diatas dapat diketahui bahwa migrasi lebih berdampak negative dibanding dampak positifnya terlebih terhadap lingkungan. Sama halnya yg terjadi di ibukota Jakarta terjadinya migrasi besar-besaran dari daerah ke ibukota membuat ligkungan di ibukota terlihat kumuh dan kurang tertata apalagi ditambah para migran yg menjadi pengangguran disini. Saran yg dapat saya berikan hanya mungkin pemerintah harus pintar dalam mengakali tata kota dan membatasi para migrant yang datang ke ibukota yg ternyata belum jelas tujuannya. Dan dapat juga pemerintah ibukota dan pemerintah daerah dapat bekerja sama dalam membangun system pekerjaan yg baik di daerah yang dapat setara dengan system pekerjaan di kota jadi tidak terjadi migrasi besar-besaran ke kota dengan alas an mencari pekerjaan.